1657408484514812
Loading...

Dulu Jadi Office Boy, Fahruddin Kini Punya Bisnis Beromset Rp40 Juta per Bulan, Ini yang Dia Lakukan


Kisah hidup Fahruddin sungguh sebuah inspirasi. Berjualan online mengubah secara drastis hidup pria yang semula bekerja sebagai Office Boy ini.


Fahruddin mengisahkan dia bekerja sebagai petugas cleaning service selama kurun waktu 2008-13. Ia mulai menjalan bisnis sampingan, berjualan online, sejak pertengahan 2013.

Karena terikat jam kerja, Fahruddin semula tidak terpikir bagaimana caranya mencari penghasilan tambahan untuk gajinya yang pas-pasan. Hingga akhirnya pada suatu hari dia bertemu dengan staf digital marketing di perusahaan tempat dia bekerja. "Lalu saya melihat ada platform yang menawarkan bisa buka toko online gratis, saya mulai mencoba masuk," katanya kepada Bareksa.

Dia mencoba menjadi reseller mainan. Eh, penjualannya berkembang. Setelah berjalan enam bulan, Fahruddin memutuskan mundur dari pekerjaannya sebagai Office Boy untuk menjadi wirausaha, membesarkan usahanya sendiri. Dia akui, itu keputusan setengah nekat. Pasalnya, omzetnya saat itu tidak lebih besar dari gaji yang dia terima.

Dan dia mengambil keputusan yang tepat.

Saat ini omzet penjualan mainan Fahruddin sudah mencapai Rp40 juta setiap bulannya, dengan harga mainan berkisar di bawah Rp50 ribu. Setiap hari, dia mengirim lebih dari 30 paket ke seluruh Indonesia. Pasar terbesarnya di Sumatera dan Jawa. Pasar Indonesia Timur cukup besar, sekitar 35 persen.                                  
Berjualan online menurutnya tidak selalu menguntungkan, ada juga suka dukanya. Ia menuturkan jika penjual konvensional bisa mengambil keuntungan hingga 100 persen pada satu item. Sedangkan di online, persaingan harga sangat ketat.

Namun, ia yakin perilaku konsumen Indonesia sedang berubah. Modal berjualan online menurutnya lebih sedikit, dengan hanya bermodalkan foto saja ia sudah bisa mulai berjualan. Berbeda dengan berjualan konvensional yang harus mempunyai stok barang yang lumayan banyak.

Ada satu kekurangan berjualan secara online yang saat ini sangat disayangkannya, itu adalah akses menuju permodalan. Ia berkali-kali mengajukan kredit kepada perbankan, namun selalu ditolak karena menurut mereka ini adalah bisnis baru.

"Saya ajukan ke bank, mereka cek fisik seperti apa. Mereka kaget karena aset hanya sedikit tapi omzet penjualannya jauh diatas asetnya," ujarnya.

Selain itu, ia mengaku tidak mengerti mengenai marketing sehingga pengajuan kredit pun tidak terlalu lancar. Ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan permodalan dan juga pelatihan administrasi bagi UKM sepertinya. "Selain itu kita butuh infrastruktur yang lebih baik agar biaya logistik bisa lebih murah," katanya.





Kisah Inspirasi 5959464486520257861

Posting Komentar

Beranda item

Terkini